Nilai-nilai kerendahan hati dan amanah dalam mengelola kekayaan kembali menjadi sorotan setelah banyak tokoh agama mengingatkan pentingnya menjaga hati dari kesombongan. Dalam ajaran Islam, setiap rezeki yang Allah titipkan bukanlah simbol kehebatan seseorang, melainkan ujian yang harus dipertanggungjawabkan. Ada yang diuji dengan kekurangan, dan ada pula yang diuji dengan kelimpahan harta, namun keduanya menuntut sikap syukur dan kehati-hatian.
Kisah pemilik dua kebun dalam Surah Al-Kahfi menjadi pesanan moral yang relevan hingga kini. Dalam kisah tersebut, kesombongan membuat seorang hamba merasa bahwa kebunnya tidak akan pernah binasa. Namun, saat hati mulai dipenuhi rasa angkuh, Allah menunjukkan bahwa harta sebesar apa pun dapat hilang dalam sekejap. Kebun yang awalnya subur berubah tandus, dan kekayaan yang melimpah lenyap tanpa tersisa.
Para ulama menegaskan bahwa kisah ini bukan sekadar cerita masa lampau, tetapi peringatan bagi setiap umat untuk tidak terlena dengan materi. Ketika kesombongan meresap dalam hati, seseorang dapat kehilangan keberkahan meskipun secara lahiriah masih memiliki banyak harta. Karena itu, kekayaan harus dikelola dengan sikap tawaduk, penuh rasa syukur, serta dimanfaatkan untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.
Sebagai bagian dari upaya menguatkan nilai-nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat, penyelenggara kampanye mengajak publik untuk terus memperdalam pemahaman agama melalui berbagai materi edukatif di Channel Eksklusif yang tersedia. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui tautan https://shorturl.at/j9NBK. Harapannya, semakin banyak umat yang memahami bahwa kekayaan adalah amanah, bukan alasan untuk sombong, sehingga keberkahan hidup dapat senantiasa terjaga.